Pekerjaan itu Bernama Kerja Keras

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Selasa, 03 Juli 2012 7/03/2012 07:50:00 PM

Senin, 2 Juli 2012 di Masjid Al-Ikhlas Jatipadang
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Pukul 19.35 (-an) WIB.

Pekerjaan itu Bernama Kerja Keras
      Saya mendapat hikmah lagi.
      Semua bermula saat petang itu, saya mendapat hidayah dari Allah untuk Sholat Isya berjamaah di masjid masyhur bernama Al-Ikhlas (seperti tersebut diatas dengan lengkap). Padahal biasanya saya langsung ngeloyor pulang karena adzan Isya udah lewat setengah jam dan saya pun sholat dirumah setelah menjadi Guru  Ngaji Amatiran. Tapi hari itu saya pulang lebih awal. Dan bertepatan dengan kumandang adzan Isya.
      Setelah sholat saya yang masih harus melipat mukenah, sedikit mundur agar tidak mengganggu orang lain dengan keajaiban tangan saya. Tepat disamping saya seorang ibu, kira-kira berusia 40 tahun lebih dengan bawaanya yang lumayan, menawarkan sebungkus permen untuk masuk angin -udah ketebak kan nama permen tersebut??-  kepada saya untuk dibeli.
“Permennya mba, dua ribu aja” tawar beliau.
      Saya yang lagi kere dan dengan segala anugerah serta keterbatasan kantong yang saya punya, menolak tawaran ibu tersebut. Dengan jujur saya jawab
“Maaf ibu, saya habis main dari rumah teman. Dan kebetulan sedang tidak membawa uang”
“Oo.. Nggak Papa, nggak papa. Berarti bukan rezeki saya hari ini”jawab beliau.
      Saya sempat mengira bahwa ibu ini adalah seorang Musafir biasa yang sedang dalam perjalanan. Tapi ternyata seorang  pedagang, yang tidak jelas dagangannya. Maksudnya, saya tidak bisa menebak termasuk Pedagang yang manakah ibu ini? Pedagang asongan kah? Pedagang pakaian atau pedagang permen? Entahlah, belum ketahuan.
“Kamu masih kuliah ya?”
“Iya Bu……………”
“Oo… ya bener kalo gitu. Kamu nanti kalo nyebrang jalan depan ini hati-hati lho, banyak kendaraan lalu lalang”
“Eh,,, Mm,, iya sih Bu, Jalan depan emang rame” jawab saya bingung. Kenapa tiba-tiba saya  disuruh untuk hati-hati di jalan. –Apa muka saya, adalah muka yang kurang expert dalam menyebrang? L-
“Iya… Terus kamu itu juga harus sering-sering  Senyum kayak gitu. Karena senyum itu Sedekah. Iya kan?” sambung beliau sambil menunjuk muka saya.
“O..oo..iya Bu” saya semakin bingung disini.
“Iya memang…. Gini saya kasih tau. Walaupun kamu nggak beli dagangan saya (Hiks! Diungkit  lagi L). Tapi saya senang, kamu menolak dengan baik. Kasih senyum. Nggak cuek sama saya.”
“Saya minta maaf Bu. Bener-bener lagi nggak ada” bela saya.
“Tenang saja! Nggak papa, nggak papa..nggak papa kok. Kalo orang nggak beli dagangan saya itu nggak masalah. Yang penting, ketika menolak itu dengan senyum.. ya! Dengan sopan..ramah.. ya! Jangan mentang-mentang cuma jualan permen terus ditolak seenaknya!”jawab Ibu itu membenahi sambil mengeluarkan barang-barang yang lain. Ada segulungan kertas warna-warni. Dan sebagiannya, gulungan kertas dengan lukisan 3 dimensi.
“Itu dagangan ibu juga?”
“Iya……”
“Oo……”
      Saya kira sudah selesai sampai disini perbincangan kami. Saya letakkan mukenah pada tempatnya dan segera pulang karena ada seorang teman yang sedang menunggu dirumah. Tapi…..
“Kamu tau?! Saya pernah jualan dari habis isya gini sampai subuh di Pasar Minggu sana. Tapi nggak ada satupun yang beli. Tapi waktu saya sholat disini, dagangan saya laku! Nggak papa walaupun cuma dua ribu perak.  Nggak papa. Yang penting saya sudah berusaha. Yang penting saya nggak minta-minta. Iya kan?!
“Iya Bu, Bener..” saya mengurungkan niat untuk kembali dan duduk dengan seksama disamping beliau.
“Banyak orang yang menilai dari luarnya aja. Padahal saya juga sama. Ingin beribadah juga dsisini. Kok, seenaknya diusir. Ini rumah Allah kan, mba? Rumah semua umatNya. Iya kan?!”
“Iya Bu….”
Saya makin bingung. Kenapa tiba-tiba tema pembicaraanya berubah. Ibarat nemu gang kecil. Jujur, saya sempat sedikit buruk sangka terhadap ibu ini. Sepertinya, dia serupa  kasus dengan ibu tua yang selalu membawa travel bag dan berdiam di pojokan masjid -Beliau ini entah memang terganggu kejiwaannya atau seorang nenek yang sudah sangat pikun, yang selalu berkata “Saya ini bukan orang stress ya! Saya ini normal! Terpelajar! Saya dulu soerang peagawai di Dinas Pertanian. Saya juga kenal kok sama  Pimpinan Masjid ini. Biar nanti saya bilang sama dia.-
Nah, ibu yang sedang disamping saya ini (menurut saya) tidak jelas statusnya. Sedikit berbeda. Sepertinya sedikit mengalami stress yang uniknya perkataan-perkataan beliau semua berisikan nasihat-nasihat.
“Tapi saya seneng. Hari ini ada yang senyum kayak kamu. Iya… kamu harus selalu senyum ya! Kamu emang nggak beli dagangan saya (Aduh,,diungkit lagi L), tapi kamu udah ganti dengan sedekah. Iya kan? Senyum itu kan sedekah. Iya kan? Senyum yang dari hati itu yang bener-bener berbuah pahala. Daripada kamu beli permen saya, tapi nggak senyum. Itu lebih nyakitin hati. Iya kan?”
“Oh! Iya..iya Bu..”
      Emang dari tadi saya senyum ya? Bukannya lagi kebingungan??? -__-‘
“Nih, saya pernah dapet kertas ini di salah satu masjid. Ini bagus sekali. Tentang kerja keras. Apapun pekerjaan kamu. Tetep kerja keras. Di bagian manapun kamu tetep kerja keras. Seperti pekerja di pesawat. Iya kan? Itu juga ada disini dijelaskan. Nih, saya kasih kamu satu.
“Wah.. terima kasih bu”
“Iya.. sama-sama. Saya emang sengaja foto kopi yang banyak biar bisa dibagi-bagikan. Kalau kita punya Ilmu itu harus di bagikan juga ke orang lain. Iya kan?”
“Iya Bu..”
“Nah,, kamu juga gitu. Habis ini nih, foto kopi itu dan sebarkan ke teman-teman kamu. Kalo bisa titpkan di Pak RT biar bisa disebar di tetangga-tetangga kamu”
“Insya Allah,, terima kasih bu, saya jadi dapet ini”
“Iya nggak papa. Nggak papa. Itu sudah jadi kewajiban saya. Iya kan?”
“Kalo gitu saya pamit dulu”
“Iya..iya silakan. Jangan lupa hati-hati nyebrangnya ya?!”
      Saya langsung pergi. Bingung dan bingung. Cuma itu. Saya memilih untuk membaca kertas itu di rumah saja.
*****
Nasihat ini ditulis oleh Ust Didin Hafidhuddin, seorang ustadz yang masyhur di masyarakat kita. Saya akan menuliskannya disini. Biar hikmahnya makin berasa. Dan hitung-hitung, melaksanakan amanah dari beliau.

Menghargai Kerja Keras
Oleh: Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS
            Syahdan ketika seorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasul SAW, tiba-tiba rasul mencium tangan pemuda itu sambil berkata “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT” (HR Jamaah).
            Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok pekerja keras inilah yang dicinta dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
            Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesame manusia, bahkan dengan dirinya sendiri.  Karena hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.
            “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang Mukmin melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS At-Taubah[9]:105).
            “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS Al-Mulk [67]: 15).
            Rasul SAW sangat memuji orang yang berusaha dan mencari nafkah untuk memenuih kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadits di atas dan hadits riwayat Imam Bukhari No. 1.470; “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik dari pada meminta-minta.”
            Dalam hadits lain riwayat Bukhari No.2.072; “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Daud As juga makan dari usahanya sendiri.”
Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Thabrani).
            Sebaliknya Rasulullah SAW sangat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan beliau selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas. “Allahummma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika minal fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematiandan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (HR Bukhari)
            Karena itu, kita harus bersyukur dan memberikan apresiasi tinggi kepada generasi muda, seperti pelajar SMK yang berhasil mebuat mobil dan merakit pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah bimbingan para gurunya dalam team work yang solid. Kita yakin masih banyak generasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depannya dan masa depan bangsa dan masyarakatnya. Wallahu a’alam.
*****
       Kesimpulan saya,
      “Berbeda profesi mungkin iya, tapi ada  pekerjaan mutlak yang harus sama. Pekerjaan yang mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Pekerjaan itu bernama Kerja Keras!!”
Iya kan?? ^__^

2 Response to "Pekerjaan itu Bernama Kerja Keras"

Unknown Says:

nice post girls,,
keep istiqomah in writing (*sokkominggris) :D

Ilma Nur Rohimah Says:

San-kyu 4 ur motivation... :)

Posting Komentar