Sinetron Gratis

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Kamis, 13 Desember 2012 12/13/2012 06:04:00 AM


Jadi,
Pagi tadi,
Sekitar pukul 10.00 waktu Indonesia masih pagi,
datanglah dua orang anak kecil, satu perempuan dan satu laki-laki.
Untuk gambaran anda,
adik perempuan 5 tahunan itu mirip artis cilik kembar Nakula dan Sadewa, rambutnya sama-sama keriting. Sedang adiki dia yang laki-laki mirip Shin-chan, kepala dan badannya paling mirip. *berasa nonton tipi jadinya.

Nah, apa yang mereka berdua lakukan?
Masing-masing membawa tas di punggungnya dan kemudian menggedor pintu rumah saya,
Mereka: “tolong buka pintunya, tolong!! kita janji nggak nakal lagi” teriak mereka dengan terus menggedor pintu.
Saya dalam hati bingung, ‘Ini anak tetangga kenapa? Masak mereka lupa rumah sendiri?’
Ingin rasanya saya bilang, ‘Dek, rumah kamu di sebelah.. Lupa ya??’

Tapi saya urungkan niat itu,
mereka berbalik dan duduk didepan gerbang.
Lalu,
Si Kakak perempuan mulai menengadahkan tangan.
“Ya Allah, lindungi kami Ya Allah,
kami tidak tahu harus kemana Ya Allah,
izinkan kami tetap sekolah, bermain Ya Allah..”
dan selanjutnya, doa mereka tidak terdengar jelas..

Tapi yang jelas,
semuanya berakhir ketika sang Ibu keluar.
“Mainnya udahan yuk, main dirumah aja” ajak beliau.

Disini, akhirnya saya tahu bahwa…

Baru saja saya menonton laga sinetron Indonesia.
karena Mereka lagi akting kabur dari rumah!

*Oalah,,, dasar bocah!


TYPO!

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Senin, 26 November 2012 11/26/2012 04:42:00 PM


Kenapa?

Anda nggak tahu ya, maksud dari TYPO itu apa?
Dan anda berniat untuk menanyakannya pada Suhu Google, yang sudah terjamin track record di dunia jawab-menjawab pertanyaan masyarakat sedunia?

Kenapa anda tergerak mencari arti kata TYPO?
Pasti karena banyak orang yang menggunakan istilah itu sekarang ya?
Dan anda termasuk orang-orang yang khawatir dibilang kuper  selalu update info-info terbaru? :D

Tenang saja!

Nasib anda sama dengan saya! *eh, tolong dicoret*

Maksud saya, Nasib anda beruntung kali ini, karena disinilah jawaban itu akan anda dapatkan!

*******
Jadi begini sodara,
TYPO adalah kependekan dari TYPHOGRAPHICAL ERROR
Yaitu kesalahan dalam penulisan kata yang pasti karena tidak sengaja. Misal: ‘Siul-siul’ menjadi ‘Siul-siuk’ atau ‘Terima kasih’ menjadi ‘Terima kasig’ atau yang lebih ekstrem lagi seperti ini, yang dimaksud itu ‘Mobil’ tapi ternyata tertulis ‘Kereta api’. Tentu ini penulisan kata yang sangat UERRROOORR. 

*******
Okeh, dan sekarang

Anda pasti bahagia,
Karena telah mengetahui arti dari TYPO itu

Saya ucapkan selamaaaaattt!!! ^____^v


Tua, Yang Tak Terperhatikan

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Jumat, 16 November 2012 11/16/2012 05:18:00 PM




            Tinggal di Kota Jakarta itu memberikan banyak kesan. Kesan baik itu ada. Kesan buruk itu pasti. Dengan segala keunggulan yang dipunya, dengan segala kerumitan masalah yang dimiliki. Ini letak keunikan kota Jakarta.
            Saya tidak ingin bercerita tentang Jakarta.
            Hanya sebuah kisah sederhana.
*****
            Menjadi perantauan, tinggal di tanah orang, berbeda budaya dan kebiasaan, bertemu perangai baru dan bermacam-macam. Keharusan untuk saya bisa beradaptasi dengan mereka. Melebur, menjadi bagian dari mereka. Tanpa meninggalkan apa yang menjadi prinsip.
            Namun, bagaimana pun juga. Ada saja bagian yang tidak bisa kita terima.
            Seperti kebiasaan tetangga yang suka nongkrong, ngobrol suatu yang tak jelas. Jika sudah begitu, dunia mereka, hanya milik mereka tanpa memperhatikan sekeliling. Tidak itu anak sendiri atau orang lain. Termasuk seorang nenek yang tinggal di dekat rumah saya. Nenek tua, yang kesepian sepertinya. Berusia 80-an tahun, sendiri tanpa teman berbagi.
            Menghabiskan usia tua di Jakarta itu, pasti bukan yang diharapkan beliau. Tuntutan Jakarta, menjadikan anaknya sibuk bekerja, meninggalkan sang ibu di rumah. Seakan meminta pengertian agar tidak mengganggu pekerjaannya.
            Usia tua,
            Sendiri, tanpa teman berbagi.
            Tiap hari berkeliling komplek mencari teman, namun tak ada yang mau menemani. Duduk termenung berjam-jam di bawah pohon atau di pos penjagaan. Menyapa siapa pun yang lewat sambil tersenyum, walau ternyata dibalas ketus karena keuzurannya.
            Pasti sempat bertanya, lalu bagaimana dengan saya?
            Hingga saat ini, hanya sapaan yang saya berikan. Juga tersenyum pada beliau. Tidak lebih. Dan belum bisa berbuat lebih. *Maaf m(_ _)m
            Dan kemarin, seperti sore-sore sebelumnya. Saya keluar rumah dan bertemu beliau. Beliau yang tahu bahwa saya adalah mahasiswa, pasti mengira bahwa setiap saya keluar saya akan pergi kuliah. Jadi, bayangkan jika saya keluar rumah sehari itu 4 kali, beliau akan 4 kali juga menanyakan hal yang sama. “Mau kuliah?”. Dan saya kadang tertawa jika meningat itu, ‘Begitu cintanya saya dengan kuliah, kalau bener dalam sehari 4 kali ngampus’ :D.
            Tapi sore itu beda,
Si Mbah: “Kamu mau kuliah?”
Saya: “Enggak mbah, lagi libur.. Pamit yaa”
Si Mbah: “Eh,, kamu bawa payung nggak?”
Saya: “Mm,, emang mau hujan Mbah? Kan udah tadi?” *ternyata beliau tahu, saya memang tidak membawa paying.
Si Mbah: “Bawa aja payungnya, kita nggak tau lho. Hujan itu tiba-tiba dating aja.”
Saya: “Nggak papa Mbah, InsyaAllah sore ini nggak hujan”
Si Mbah: “Eh, jangan gitu kamu. Saya sering liat kamu pulang hujan-hujanan nggak bawa payung. Nanti kalo sakit gimana? Jauh dari orang tua, kalo sakit nanti orang rumah yang khawatir. Masih juga nanti harus kuliah. Udah kamu pulang ambil payung!”
Saya: “ah,,eh,, iya Mbah”
            Saya segera kembali ke rumah, untuk mengambil payung. Tapi ada anak-anak iseng yang meledek.
Mereka: “Kenapa mbak? Diomelin ya ama Mbah??” sambil tertawa.
Saya: “Itu bukan diomelin yaa, Mbah cuma ngingetin!!!”
‘Dasar anak iseng!!’ rutuk saya dalam hati.
            Di jalan kembali ke rumah, saya ingat-ingat kembali kejadian tadi. Ternyata beliau begitu peduli dan memperhatikan saya. Walaupun kami hanya bertemu di jalan. Berbeda dengan beliau yang tidak diperhatikan sekelilingnya. Dilalui dan tidak dianggap keberadaanya. Bahkan sering dijadikan bahan ejekan anak-anak komplek.
            Mungkin ada baiknya jika beliau kembali saja ke kampung halamannya. Menikmati hari tua dengan keramahan dan keasrian sebuah desa.
            Tapi, pasti semuanya berhikmah.
            Selesai mengambil payung, kembali saya bertemu dengan Mbah itu.
Si Mbah: “Udah dibawa payungnya?”
Saya: “sudah mbah! Di dalem tas!” teriak saya sambil menunjuk ransel.
******
*Hidup tak akan selamnya indah. Ada masanya, hidup kita berada diakhirnya. Menjadi tua, menjadi lemah. Atau sebelum menjadi tua. Dan kita pun harus siap jika nanti saat Tua, saat dimana tak lagi banyak orang  akan memperhatikan seperti sekarang ini*
             
            

Dekati DIA!

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Rabu, 07 November 2012 11/07/2012 07:11:00 AM


"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran." 
{Qs. AlBaqarah: 186}


:: Semua berasal dariNya, ::

:: Coba kita kembalikan padaNya, Kita cari tahu apa mauNya ::

:: Dengan terus mendekat padaNya, ::

:: Terus dekati DIA!!! ::



Ilma Nur Rohimah,
yang juga terus  mendekati Dia,,,

Oh, Om Security!

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Kamis, 25 Oktober 2012 10/25/2012 09:28:00 AM


       Ehm,
       Jadi begini ceritanya…
       @344&6%$(*&^)&***##2%61$%_^_--$#@76%$((7*^^%$#@!!!!!??.,>/’\){\/.,}|||!!!!!!!!!!!!!!!!
       
Bagaimana?
       Jelas kan sudah ceritanya?
Baiklah, saya akan ulang sekali lagi pembaca yang budiman..
       Jadi begini ceritanya,
       Hari ini, yaa siang tadi maksudnya. Saya mengikuti sebuah seminar yang lumayan sedikit agak berat pembahasannya. Tentang Budaya Nasional Indonesia. Namun, sayangnya saya tidak akan membahas hasil seminar tersebut. Karena ada hal penting lain yang ingin saya ceritakan disini. Karena ini adalah blog saya. Dan karena anda hanya punya hak membaca dan berkomentar. Heheh.. ^__^v
       Nah, acara ini berlangsung di Hall Puri Ratna, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Dengan segala pengalaman hidup di Jakarta yang telah berumur satu tahun, saya percaya diri untuk datang tanpa kawan. Sebenernya sih, bukan saya tidak mau ditemani. Tapi karena saya yang telat. Ditambah volume kendaraan hari ini itu padet banget! Bis yang saya tumpangi, hanya bisa terpekur ditengah jalan, berhenti total selama sejam L
       Setelah sampai di depan hotel, saya bingung. Dimana sebenarnya acara itu berlangsung. Saya masih menimbang-nimbang. Lewat pintu depan, ntar dikira mau nginep. Lewat pintu belakang, kok jadi nggak jauh beda ama CS *cleaning servis* ya? Mau lewat pintu samping, nggak bisa. Soalnya mereka nggak buat pintu samping :P. Akhirnya, saya dekati seorang security,
       Saya: “Pak, mau nanya tempat acara ini ya..”
       Security: “Acara apaan mba?”
       Saya: “bentar pak, saya cari sms-nya dulu” –sambil nguprek-nguprek henpon saya.
       Security: “Makanya mba, sms jangan banyak-banyak!!”
       Saya: -Yaaa, kok jadi Bapaknya sewot- “Iya,,iya Pak, ini mah nggak banyak. Masih ada yang lebih banyak dari segini Pak”
       Saya: “Naaaah, ini nih Pak. Seminar 4 Pilar Kebangsaan.” –sambil saya tunjukan henponnya-
       Security: “Mane sih mba..?”
       Saya: “ini lho Pak, yang saya tunjuk”
       Security: “Mane sih?” –si Bapak udah nggak sabar, dan akhirnya mengambil henpon saya-
       Saya: “Pak…!”
       Security: “iya..tunggu mba, saya baca dulu” –sambil menggese-geser layar henpon yang emang bisa digeser-
       Saya: “Udah belum Pak..? saya udah telat ini!!” -___-‘
       Security: “Oo..acara ini, kamu lurus aja Mba, sampe ketemu plang gede namanya Puri Ratna”
       Saya: “Okeh, terima kasih…! Tapi henpon saya balikin dulu Pak!”
       Security: “Oo.. ini-ini…”
       Saya: -  setengah berlari mengejar waktu, saya mikir ‘Yaaa… tapi henpon saya jangan ampe ditilep atuh Pak -___-a ‘–
Dan, akhir cerita ini adalah happy ending.
Saya tidak salah menemukan tempat acaranya, Saya ktemu kawan lainnya dan Saya dapet Ilmu yang bermanfaat hari ini insyaAllah J

Untukmu, Palestina

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Senin, 22 Oktober 2012 10/22/2012 02:35:00 AM


#SavePalestina
Senin Penuh Semangat, 6 Dzulhijjah 1433H

Bulan Dzulhijjah, selain dikenal dengan bulan Haji-karena didalamnya ada perintah menunaikan ibadah haji- tetapi juga disebut sebagai Bulan Tadlhiyah atau bulan Pengorbanan. Ajaran untuk berkorban dalam bentuk kurban kita. Namun, tadlhiyah atau pengorbanan itu tidak hanya sebatas sembelihan kurban di tanggal 10 atau 11,12 dan 13 dzulhijjah yang biasa disebut hari tasyrik.
Masih dalam momen Pemaksimalan Amal di 10 hari awal bulan Dzulhijjah ini Para Pecinta Ilmu. Saya pun diingatkan dengan kondisi saudara-saudara kita di Tanah Suci Palestina. Dalam seminar kepalestinaan kemarin, Syaikh Abu ‘Uwaimer dari Palestina menjelaskan bahwa sebuah kesalahan jika kita menyempitkan makna pengorbanan dengan hanya berkurban. Bukan. Bukan itu yang diharapkan dari berkurban. Tapi terasahnya rasa kepekaan, simpati kita. Bahkan, tidak hanya simpati. Harus ada empati.
Beliau mengatakan, jika semua orang ditanya tentang Palestina, maka semua akan menjawab, ‘Ya..kami cinta Palestina’. Dan beliau tidak ragu akan pernyataan mereka. Namun, kecintaan kita itu bersifat momen opname, sesaat saja. Sehingga sering terlupa.
Untuk Palestina, tidak sembarang cinta bisa terucap. Untuk Palestina, tidak semua simpati bisa menolong.
Syaikh Abu Uwaimer pun menjelaskan, ada beberapa syarat agar kecintaan itu bernilai;
1.       Iman (الايمان)
Skala permasalahan Palestina bukan lagi skala internasional atau hubungan kenegaraan. Akan tetapi, masalah Palestina berada dalam skala yang sangat besar. Skala keimanan. Disini keimanan dipertaruhkan. Sudahkah kita termasuk orang-orang yang meyakini bahwa Palestina adalah Bumi para nabi? Palestina adalah tempat kiblat pertama umat muslim berada? Palestina memiliki Masjid Al-Aqsha yang merupakan Masjid utama untuk umat muslim.?
Ataukah kecintaan yang kita dengungkan hanya sekedar pemanis mulut belaka?  Hanya sekedar sebuah simpati kosong?

2.       Ilmu dan Pemahaman (العلم و الفهم)
Cinta kita untuk Palestina akan terus tumbuh ketika kita mengetahui dan paham betul permasalahan Palestina yang sesungguhnya.

3.       Sabar dan Semangat (الصبر و الحرص)
Bukan sabar melihat penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, justru kita mesti geram. Tapi sabar untuk selalu memupuk rasa cinta. Dan semangat menjaga empati kita. Sama halnya dengan kesabaran dan semangat seorang ibu merawat anaknya. Bisa kita bayangkan jika tidak ada kesabaran dan semangat itu. Betapa banyak anak yang harus menyudahi hidupnya dalam waktu yang tak terbilang lama. Bisa kita bayangkan jika tidak ada kesabaran dan semangat itu. Betapa cepatnya nanti bumi Palestina akan hilang dari sejarah manusia?

4.       Kejujuran (الصدق)
Kejujuran ketika beramal dan kejujuran dalam niat untuk masalah Palestina. Jika sering kali kita mengabaikan Palestina, cobalah untuk menelisik lebih jauh lagi seberapa tulus kejujuran cinta kita terhadap Palestina?
Saat anda mendapatkan kemurnian dan kejujuran niat anda, Pasti anda adalah mereka yang benar-benar mencintai Palestina
Jadikan cinta kita untuk Palestina sebagai pemberat amal menuju Firdaus-Nya. Jadikan amalan kita di 10 hari ini amalan terindah untuk predikat amal yang Sangat Dicinta Allah SWT. (Inr/Arslan)


Berharap Roda Bertambah

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Senin, 17 September 2012 9/17/2012 06:42:00 PM

Berharap Roda Bertambah
          Pasti.
Pernyataan tentang itu pasti ada. Tiap tahun pasti ada. Kami yang dengar juga pasti harus siap sedia.

            Pasti.
Pernyataan itu selalu saja ada. Apalagi di Bulan Ramadahan dan Syawal lebih terasa.

            Keluarga saya itu keluarga dengan anggota yang bisa dibilang lumayan. Bersama keempat saudara perempuan dan orang tua saya, pernyataan itu memang sangat pas dinyatakan. Pernyataan yang wajar, karena memang hal itu adalah sebuah kebutuhan kami.

            “Seharusnya sudah ada mobil yang mejeng disamping rumah…” J

Memang. Seharusnya memang harus ada.

FYI, Ayah dan Ibu saya itu, orang tua yang sangat peduli dan dermawan. Dermawan dalam bagi-bagi pahala. Saya bilang dermawan, karena beliau berdua itu selalu melibatkan anak-anaknya dalam kegiatan kebaikan. Seakan beliau berdua nggak mau dapet pahala sendirian. Walaupun sesulit apapun. Misalnya, kalau ada pengajian semua anaknya pasti diajak. Dan itu sudah dilakukan sejak saya kecil. Tempat yang jauh, tetap saja ditempuh walau harus 2 kali mengantar. Bayangannya seperti ini. Kloter pertama, saya dan dua adik saya. Kloter kedua, ayah bonceng ibu dan satu adik sisanya.
            “Iya, tenang aja. Masih ada yang lebih penting dibanding mobil sekarang ini..” jawab ayah tiap kali pernyataan dan pertanyaan tentang itu lagi-lagi muncul.

Saya sih, juga sangat berharap. Kami sekeluarga bisa pergi sama-sama dalam satu mobil. Siapa juga yang nggak mau?  Tapi saya tahu, ayah dan ibu saya pasti punya pertimbangan lain untuk hal ini. Ini rahasia dua insan, Haha :P

Ada satu yang membuat saya nggak terlupa dengan Ramadlan 1433H kemarin ini. I’tikaf(bermalam di Masjid) di sepuluh hari terakhir. Dan anda tahu?? Ayah dan ibu saya nggak pernah pergi I’tikaf sendirian. Pasti kami anak-anaknya diajak juga. Dari dulu sodara-sodara! Dari saya masih kelas TK sampai sekarang sudah Semester tiga. Tiap malam boyongan barang-barang kayak pindahan. Bawa selimut, jaket, makanan sahur dan cemilan sebanyak-banyaknya.

Nah, I’tikaf kali ini beda. Kami pergi ketempat yang lebih jauh dari biasanya. Di Masjid Abu Bakar, Puncak Dieng-Malang. Yang sholat malam disana itu berimamkan seorang syekh dari Makkah. Jadi feel-nya itu lho, dapet banget!^__^. Ini mungkin alasan yang menjadikan ayah dan ibu saya ketagihan I’tikaf disana. Hanya saja terkendala dengan transportnya. Syukurnya, seorang teman akrab ayah mengajak kami sekeluarga untuk kesana dengan tumpangan mobil beliau.

Namun, di hari terakhir beliau nggak bisa lagi menjemput kami. Karena beliau berencana untuk pulang kampung. Hari itu sempet sedih juga. Hari terakhir malah nggak bisa pergi L. Ayah saya juga sangat berharap malam terakhir itu bisa dimaksimalkan.

Akhirnya, ayah saya bilang “Ayo siap-siap! Ayah udah pesen taksi J

Ayah saya seakan bisa baca rutukan saya dalam hati waktu itu, ‘Coba punya mobil, kan nggak repot nunggu tumpangan’ . Asli! Saya malu berat..
Padahal sebenernya, kalau ayah dan ibu mau, beliau bisa pergi berdua dengan motor. Dan kami I’tikaf ditempat biasa.

Tapi, ternyata Tuhan saya ingin malam itu menjadi malam I’tikaf saya yang paling indah.

*****
Paginya, kami pulang dengan naik angkot. Lalu saya bilang,”Waaaaa,, tadi malem naik Taksi, sekarang ngangkot :P”
Jawab ayah saya, “Jadi kerasa semuanya kan???” J

Mm.. di angkot saya mulai berpikir.

Sebenernya Allah ingin memberikan kesempatan pada kami untuk mempunyai waktu bersama yang lebih dari biasanya dengan belum adanya mobil diantara kami.

Sebenernya Allah ingin memberikan sebuah kenangan indah yang bisa kami ceritakan pada lainnya.

Dan sebenernya Allah ingin memberikan sebuah hikmah yang mungkin tidak akan kami dapatkan jika kami mempunyai mobil itu..

Serta sebenernya, Allah SWT sudah punya timing yang tepat untuk kami diberikan sebuah mobil.

Yang penting kami sekarang mencoba untuk memantaskan diri dan terus Berharap Roda motor kami akan Bertambah jadi empat ato lebih juga nggak apa-apa, agar akhirnya membawa berjuta kebermanfaatan.
Aamiiiiiiiin \^____^/

Ramadlan: the Best Variety Show

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Rabu, 25 Juli 2012 7/25/2012 12:35:00 AM

Malang, 1 Ramadlan 1433 H/ 20 Juli 2012

Selamat datang di Bulan yang penuh keberkahan., penuh kejutan dan penuh kebahagiaan serta rahmat.  Tersedia jutaan hadiah yang dapat diperoleh di Bulan ini.

Ramadlan ini adalah sebuah Variety Show  yang  diselengggarakan tiap tahun di bulan ke Sembilan menurut kalender Hijriah.  Yang secara konsisten hadir membawa segudang harapan dan sambutan yang meriah.

Dengan konsep yang berbeda dari variety show biasa, Ramadlan siap memberikan berjuta kejutan untuk seluruh pesertanya. Kejutan ini  tidak hanya datang di pagi hari saja, atau siang hari saja, atau sore serta malam hari saja. Karena kejutan-kejutan Ramadlan akan datang mengejutkan anda 24 jam nonstop, sehari semalam, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Saat anda bangun, tidur, bekerja, beribadah atau dalam aktivitas sesibuk apapun selama satu bulan penuh

Ditengah maraknya variety show yang bermunculan. Yakinlah bahwa Ramadlan adalah variety show yang paling sempurna. Bayangkan!!!  Hadiah-hadiah menarik  didalamnya, bukanlah hadiah biasa. Ada sejumlah rahmat yang akan dibagikan di 10 hari pertama, sejumlah ampunan yang akan dibagikan di 10 hari kedua, dan puluhan hingga ratusan juta tiket pembebasan dari api neraka di 10 hari terakhir.

Eits,, bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi…
Pahala-pahala amalan anda akan berlipat-lipat. Ibarat bonus-bonus yang anda dapatkan saat menyelesaikan sebuah permainan. Bonus pahala tersebut akan dikalkulasikan dengan total pahala anda sebelumnya dan menjadi pemberat timbangan amal anda untuk bisa menikmati Keindahan Surga Allah SWT.

Tunggu dulu…

Belum cukup sampai disini..

Anda memiliki keinginan yang belum tercapai??? atau kesulitan yang belum mendapatkan solusi???

Ramadlan adalah pilihan tepat. Dengan mengikuti nya, anda bebas mengutarakan apapun keinginan, curhatan bahkan kesedihan hingga kesulitan anda.
Kenapa???
Karena setiap doa yang terucap, tidak terhalang sedikit pun. Doa dan pengharapan anda akan langsung dikabulkan. Lihat saja! Anda akan merasakan keajaiban dari kekuatan doa yang anda ucapkan saat berada di Bulan ini.

Bagaimana???

Anda tertarik bukan untuk mengikutinya???

******

Caranya mudah!!!

Anda tidak perlu mendaftar ke stasiun televisi, radio atau media manapun. Tidak perlu registrasi melalui apapun. Tidak ada pungutan biaya sepeserpun. Dan anda tidakperlu pergi kemanapun.

Karena hanya dengan:
1.      Beragama Islam
2.      Berpuasa selama bulan Ramadlan ini
3.      Menjaga kualitas amalan-amalan wajib
4.     Meluangkan waktu untuk amalan-amalan sunnah
5.      Rajin infaq serta shadaqah
6.     Banyak berdoa dan dzikir
7.     Menghiasi lisan dengan membaca AlQuran dan perkataan yang baik
8.      Serta, memilik niat Ikhlas karena Allah SWT dan azzam yang kuat
 
Anda akan merasakan sensasi dan kejutan hadiahnya langsung dan tanpa tanggungan pajak.

Mau tunggu apalagi???

Ayo buruan!!!!
Raih Pahalanya, Raih KeridloanNya……..
 
Because, Ramadlan is The Best Variety Show in the World


    


Pekerjaan itu Bernama Kerja Keras

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Selasa, 03 Juli 2012 7/03/2012 07:50:00 PM

Senin, 2 Juli 2012 di Masjid Al-Ikhlas Jatipadang
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Pukul 19.35 (-an) WIB.

Pekerjaan itu Bernama Kerja Keras
      Saya mendapat hikmah lagi.
      Semua bermula saat petang itu, saya mendapat hidayah dari Allah untuk Sholat Isya berjamaah di masjid masyhur bernama Al-Ikhlas (seperti tersebut diatas dengan lengkap). Padahal biasanya saya langsung ngeloyor pulang karena adzan Isya udah lewat setengah jam dan saya pun sholat dirumah setelah menjadi Guru  Ngaji Amatiran. Tapi hari itu saya pulang lebih awal. Dan bertepatan dengan kumandang adzan Isya.
      Setelah sholat saya yang masih harus melipat mukenah, sedikit mundur agar tidak mengganggu orang lain dengan keajaiban tangan saya. Tepat disamping saya seorang ibu, kira-kira berusia 40 tahun lebih dengan bawaanya yang lumayan, menawarkan sebungkus permen untuk masuk angin -udah ketebak kan nama permen tersebut??-  kepada saya untuk dibeli.
“Permennya mba, dua ribu aja” tawar beliau.
      Saya yang lagi kere dan dengan segala anugerah serta keterbatasan kantong yang saya punya, menolak tawaran ibu tersebut. Dengan jujur saya jawab
“Maaf ibu, saya habis main dari rumah teman. Dan kebetulan sedang tidak membawa uang”
“Oo.. Nggak Papa, nggak papa. Berarti bukan rezeki saya hari ini”jawab beliau.
      Saya sempat mengira bahwa ibu ini adalah seorang Musafir biasa yang sedang dalam perjalanan. Tapi ternyata seorang  pedagang, yang tidak jelas dagangannya. Maksudnya, saya tidak bisa menebak termasuk Pedagang yang manakah ibu ini? Pedagang asongan kah? Pedagang pakaian atau pedagang permen? Entahlah, belum ketahuan.
“Kamu masih kuliah ya?”
“Iya Bu……………”
“Oo… ya bener kalo gitu. Kamu nanti kalo nyebrang jalan depan ini hati-hati lho, banyak kendaraan lalu lalang”
“Eh,,, Mm,, iya sih Bu, Jalan depan emang rame” jawab saya bingung. Kenapa tiba-tiba saya  disuruh untuk hati-hati di jalan. –Apa muka saya, adalah muka yang kurang expert dalam menyebrang? L-
“Iya… Terus kamu itu juga harus sering-sering  Senyum kayak gitu. Karena senyum itu Sedekah. Iya kan?” sambung beliau sambil menunjuk muka saya.
“O..oo..iya Bu” saya semakin bingung disini.
“Iya memang…. Gini saya kasih tau. Walaupun kamu nggak beli dagangan saya (Hiks! Diungkit  lagi L). Tapi saya senang, kamu menolak dengan baik. Kasih senyum. Nggak cuek sama saya.”
“Saya minta maaf Bu. Bener-bener lagi nggak ada” bela saya.
“Tenang saja! Nggak papa, nggak papa..nggak papa kok. Kalo orang nggak beli dagangan saya itu nggak masalah. Yang penting, ketika menolak itu dengan senyum.. ya! Dengan sopan..ramah.. ya! Jangan mentang-mentang cuma jualan permen terus ditolak seenaknya!”jawab Ibu itu membenahi sambil mengeluarkan barang-barang yang lain. Ada segulungan kertas warna-warni. Dan sebagiannya, gulungan kertas dengan lukisan 3 dimensi.
“Itu dagangan ibu juga?”
“Iya……”
“Oo……”
      Saya kira sudah selesai sampai disini perbincangan kami. Saya letakkan mukenah pada tempatnya dan segera pulang karena ada seorang teman yang sedang menunggu dirumah. Tapi…..
“Kamu tau?! Saya pernah jualan dari habis isya gini sampai subuh di Pasar Minggu sana. Tapi nggak ada satupun yang beli. Tapi waktu saya sholat disini, dagangan saya laku! Nggak papa walaupun cuma dua ribu perak.  Nggak papa. Yang penting saya sudah berusaha. Yang penting saya nggak minta-minta. Iya kan?!
“Iya Bu, Bener..” saya mengurungkan niat untuk kembali dan duduk dengan seksama disamping beliau.
“Banyak orang yang menilai dari luarnya aja. Padahal saya juga sama. Ingin beribadah juga dsisini. Kok, seenaknya diusir. Ini rumah Allah kan, mba? Rumah semua umatNya. Iya kan?!”
“Iya Bu….”
Saya makin bingung. Kenapa tiba-tiba tema pembicaraanya berubah. Ibarat nemu gang kecil. Jujur, saya sempat sedikit buruk sangka terhadap ibu ini. Sepertinya, dia serupa  kasus dengan ibu tua yang selalu membawa travel bag dan berdiam di pojokan masjid -Beliau ini entah memang terganggu kejiwaannya atau seorang nenek yang sudah sangat pikun, yang selalu berkata “Saya ini bukan orang stress ya! Saya ini normal! Terpelajar! Saya dulu soerang peagawai di Dinas Pertanian. Saya juga kenal kok sama  Pimpinan Masjid ini. Biar nanti saya bilang sama dia.-
Nah, ibu yang sedang disamping saya ini (menurut saya) tidak jelas statusnya. Sedikit berbeda. Sepertinya sedikit mengalami stress yang uniknya perkataan-perkataan beliau semua berisikan nasihat-nasihat.
“Tapi saya seneng. Hari ini ada yang senyum kayak kamu. Iya… kamu harus selalu senyum ya! Kamu emang nggak beli dagangan saya (Aduh,,diungkit lagi L), tapi kamu udah ganti dengan sedekah. Iya kan? Senyum itu kan sedekah. Iya kan? Senyum yang dari hati itu yang bener-bener berbuah pahala. Daripada kamu beli permen saya, tapi nggak senyum. Itu lebih nyakitin hati. Iya kan?”
“Oh! Iya..iya Bu..”
      Emang dari tadi saya senyum ya? Bukannya lagi kebingungan??? -__-‘
“Nih, saya pernah dapet kertas ini di salah satu masjid. Ini bagus sekali. Tentang kerja keras. Apapun pekerjaan kamu. Tetep kerja keras. Di bagian manapun kamu tetep kerja keras. Seperti pekerja di pesawat. Iya kan? Itu juga ada disini dijelaskan. Nih, saya kasih kamu satu.
“Wah.. terima kasih bu”
“Iya.. sama-sama. Saya emang sengaja foto kopi yang banyak biar bisa dibagi-bagikan. Kalau kita punya Ilmu itu harus di bagikan juga ke orang lain. Iya kan?”
“Iya Bu..”
“Nah,, kamu juga gitu. Habis ini nih, foto kopi itu dan sebarkan ke teman-teman kamu. Kalo bisa titpkan di Pak RT biar bisa disebar di tetangga-tetangga kamu”
“Insya Allah,, terima kasih bu, saya jadi dapet ini”
“Iya nggak papa. Nggak papa. Itu sudah jadi kewajiban saya. Iya kan?”
“Kalo gitu saya pamit dulu”
“Iya..iya silakan. Jangan lupa hati-hati nyebrangnya ya?!”
      Saya langsung pergi. Bingung dan bingung. Cuma itu. Saya memilih untuk membaca kertas itu di rumah saja.
*****
Nasihat ini ditulis oleh Ust Didin Hafidhuddin, seorang ustadz yang masyhur di masyarakat kita. Saya akan menuliskannya disini. Biar hikmahnya makin berasa. Dan hitung-hitung, melaksanakan amanah dari beliau.

Menghargai Kerja Keras
Oleh: Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS
            Syahdan ketika seorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasul SAW, tiba-tiba rasul mencium tangan pemuda itu sambil berkata “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT” (HR Jamaah).
            Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok pekerja keras inilah yang dicinta dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
            Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesame manusia, bahkan dengan dirinya sendiri.  Karena hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.
            “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang Mukmin melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS At-Taubah[9]:105).
            “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS Al-Mulk [67]: 15).
            Rasul SAW sangat memuji orang yang berusaha dan mencari nafkah untuk memenuih kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadits di atas dan hadits riwayat Imam Bukhari No. 1.470; “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik dari pada meminta-minta.”
            Dalam hadits lain riwayat Bukhari No.2.072; “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Daud As juga makan dari usahanya sendiri.”
Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Thabrani).
            Sebaliknya Rasulullah SAW sangat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan beliau selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas. “Allahummma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika minal fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematiandan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (HR Bukhari)
            Karena itu, kita harus bersyukur dan memberikan apresiasi tinggi kepada generasi muda, seperti pelajar SMK yang berhasil mebuat mobil dan merakit pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah bimbingan para gurunya dalam team work yang solid. Kita yakin masih banyak generasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depannya dan masa depan bangsa dan masyarakatnya. Wallahu a’alam.
*****
       Kesimpulan saya,
      “Berbeda profesi mungkin iya, tapi ada  pekerjaan mutlak yang harus sama. Pekerjaan yang mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Pekerjaan itu bernama Kerja Keras!!”
Iya kan?? ^__^