Jadi,
Pagi
tadi,
Sekitar
pukul 10.00 waktu Indonesia masih pagi,
datanglah
dua orang anak kecil, satu perempuan dan satu laki-laki.
Untuk
gambaran anda,
adik
perempuan 5 tahunan itu mirip artis cilik kembar Nakula dan Sadewa, rambutnya
sama-sama keriting. Sedang adiki dia yang laki-laki mirip Shin-chan, kepala dan
badannya paling mirip. *berasa nonton tipi jadinya.
Nah,
apa yang mereka berdua lakukan?
Masing-masing
membawa tas di punggungnya dan kemudian menggedor pintu rumah saya,
Mereka:
“tolong buka pintunya, tolong!! kita janji nggak nakal lagi” teriak mereka
dengan terus menggedor pintu.
Saya
dalam hati bingung, ‘Ini anak tetangga kenapa? Masak mereka lupa rumah
sendiri?’
Ingin
rasanya saya bilang, ‘Dek, rumah kamu di sebelah.. Lupa ya??’
Tapi
saya urungkan niat itu,
mereka
berbalik dan duduk didepan gerbang.
Lalu,
Si
Kakak perempuan mulai menengadahkan tangan.
“Ya
Allah, lindungi kami Ya Allah,
kami
tidak tahu harus kemana Ya Allah,
izinkan
kami tetap sekolah, bermain Ya Allah..”
dan
selanjutnya, doa mereka tidak terdengar jelas..
Tapi
yang jelas,
semuanya
berakhir ketika sang Ibu keluar.
“Mainnya
udahan yuk, main dirumah aja” ajak beliau.
Disini,
akhirnya saya tahu bahwa…
Baru
saja saya menonton laga sinetron Indonesia.
karena
Mereka lagi akting kabur dari rumah!
*Oalah,,,
dasar bocah!
Kenapa?
Anda nggak tahu
ya, maksud dari TYPO itu apa?
Dan anda berniat
untuk menanyakannya pada Suhu Google, yang sudah terjamin track record di dunia
jawab-menjawab pertanyaan masyarakat sedunia?
Kenapa anda tergerak
mencari arti kata TYPO?
Pasti karena
banyak orang yang menggunakan istilah itu sekarang ya?
Dan anda
termasuk orang-orang yang khawatir dibilang kuper selalu update info-info terbaru? :D
Tenang saja!
Nasib anda sama
dengan saya! *eh, tolong dicoret*
Maksud saya,
Nasib anda beruntung kali ini, karena disinilah jawaban itu akan anda dapatkan!
*******
Jadi begini sodara,
TYPO adalah kependekan dari
TYPHOGRAPHICAL ERROR
Yaitu kesalahan dalam penulisan kata yang
pasti karena tidak sengaja. Misal: ‘Siul-siul’ menjadi ‘Siul-siuk’ atau ‘Terima
kasih’ menjadi ‘Terima kasig’ atau yang lebih ekstrem lagi seperti ini, yang dimaksud
itu ‘Mobil’ tapi ternyata tertulis ‘Kereta api’. Tentu ini penulisan kata yang
sangat UERRROOORR.
*******
Okeh, dan sekarang
Anda pasti bahagia,
Karena telah mengetahui arti dari TYPO
itu
Saya ucapkan selamaaaaattt!!! ^____^v
Tinggal
di Kota Jakarta itu memberikan banyak kesan. Kesan baik itu ada. Kesan buruk
itu pasti. Dengan segala keunggulan yang dipunya, dengan segala kerumitan
masalah yang dimiliki. Ini letak keunikan kota Jakarta.
Saya
tidak ingin bercerita tentang Jakarta.
Hanya
sebuah kisah sederhana.
*****
Menjadi
perantauan, tinggal di tanah orang, berbeda budaya dan kebiasaan, bertemu
perangai baru dan bermacam-macam. Keharusan untuk saya bisa beradaptasi dengan
mereka. Melebur, menjadi bagian dari mereka. Tanpa meninggalkan apa yang
menjadi prinsip.
Namun,
bagaimana pun juga. Ada saja bagian yang tidak bisa kita terima.
Seperti
kebiasaan tetangga yang suka nongkrong, ngobrol suatu yang tak jelas. Jika sudah
begitu, dunia mereka, hanya milik mereka tanpa memperhatikan sekeliling. Tidak
itu anak sendiri atau orang lain. Termasuk seorang nenek yang tinggal di dekat
rumah saya. Nenek tua, yang kesepian sepertinya. Berusia 80-an tahun, sendiri
tanpa teman berbagi.
Menghabiskan
usia tua di Jakarta itu, pasti bukan yang diharapkan beliau. Tuntutan Jakarta,
menjadikan anaknya sibuk bekerja, meninggalkan sang ibu di rumah. Seakan meminta
pengertian agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Usia
tua,
Sendiri,
tanpa teman berbagi.
Tiap
hari berkeliling komplek mencari teman, namun tak ada yang mau menemani. Duduk termenung
berjam-jam di bawah pohon atau di pos penjagaan. Menyapa siapa pun yang lewat
sambil tersenyum, walau ternyata dibalas ketus karena keuzurannya.
Pasti
sempat bertanya, lalu bagaimana dengan saya?
Hingga
saat ini, hanya sapaan yang saya berikan. Juga tersenyum pada beliau. Tidak lebih.
Dan belum bisa berbuat lebih. *Maaf m(_ _)m
Dan
kemarin, seperti sore-sore sebelumnya. Saya keluar rumah dan bertemu beliau. Beliau
yang tahu bahwa saya adalah mahasiswa, pasti mengira bahwa setiap saya keluar saya
akan pergi kuliah. Jadi, bayangkan jika saya keluar rumah sehari itu 4 kali,
beliau akan 4 kali juga menanyakan hal yang sama. “Mau kuliah?”. Dan saya
kadang tertawa jika meningat itu, ‘Begitu cintanya saya dengan kuliah, kalau
bener dalam sehari 4 kali ngampus’ :D.
Tapi
sore itu beda,
Si Mbah: “Kamu mau kuliah?”
Saya: “Enggak mbah, lagi libur.. Pamit
yaa”
Si Mbah: “Eh,, kamu bawa payung nggak?”
Saya: “Mm,, emang mau hujan Mbah? Kan udah
tadi?” *ternyata beliau tahu, saya memang tidak membawa paying.
Si Mbah: “Bawa aja payungnya, kita nggak
tau lho. Hujan itu tiba-tiba dating aja.”
Saya: “Nggak papa Mbah, InsyaAllah sore
ini nggak hujan”
Si Mbah: “Eh, jangan gitu kamu. Saya
sering liat kamu pulang hujan-hujanan nggak bawa payung. Nanti kalo sakit
gimana? Jauh dari orang tua, kalo sakit nanti orang rumah yang khawatir. Masih
juga nanti harus kuliah. Udah kamu pulang ambil payung!”
Saya: “ah,,eh,, iya Mbah”
Saya
segera kembali ke rumah, untuk mengambil payung. Tapi ada anak-anak iseng yang
meledek.
Mereka: “Kenapa mbak? Diomelin ya ama
Mbah??” sambil tertawa.
Saya: “Itu bukan diomelin yaa, Mbah cuma
ngingetin!!!”
‘Dasar anak iseng!!’ rutuk saya dalam
hati.
Di
jalan kembali ke rumah, saya ingat-ingat kembali kejadian tadi. Ternyata beliau
begitu peduli dan memperhatikan saya. Walaupun kami hanya bertemu di jalan. Berbeda
dengan beliau yang tidak diperhatikan sekelilingnya. Dilalui dan tidak dianggap
keberadaanya. Bahkan sering dijadikan bahan ejekan anak-anak komplek.
Mungkin
ada baiknya jika beliau kembali saja ke kampung halamannya. Menikmati hari tua
dengan keramahan dan keasrian sebuah desa.
Tapi,
pasti semuanya berhikmah.
Selesai
mengambil payung, kembali saya bertemu dengan Mbah itu.
Si Mbah: “Udah dibawa payungnya?”
Saya: “sudah mbah! Di dalem tas!” teriak
saya sambil menunjuk ransel.
******
*Hidup tak akan selamnya indah. Ada masanya,
hidup kita berada diakhirnya. Menjadi tua, menjadi lemah. Atau sebelum menjadi
tua. Dan kita pun harus siap jika nanti saat Tua, saat dimana tak lagi banyak orang
akan memperhatikan seperti sekarang ini*
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran."
{Qs. AlBaqarah: 186}
:: Semua berasal dariNya, ::
:: Coba kita kembalikan padaNya, Kita cari tahu apa mauNya ::
:: Dengan terus mendekat padaNya, ::
:: Terus dekati DIA!!! ::
Ilma Nur Rohimah,
yang juga terus mendekati Dia,,,
Ehm,
Jadi begini ceritanya…
Bagaimana?
Jelas kan sudah ceritanya?
Baiklah, saya
akan ulang sekali lagi pembaca yang budiman..
Jadi begini ceritanya,
Hari ini, yaa siang tadi maksudnya. Saya mengikuti
sebuah seminar yang lumayan sedikit agak berat pembahasannya. Tentang Budaya
Nasional Indonesia. Namun, sayangnya saya tidak akan membahas hasil seminar
tersebut. Karena ada hal penting lain yang ingin saya ceritakan disini. Karena ini
adalah blog saya. Dan karena anda hanya punya hak membaca dan berkomentar.
Heheh.. ^__^v
Nah, acara ini berlangsung di Hall Puri
Ratna, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Dengan segala pengalaman hidup di
Jakarta yang telah berumur satu tahun, saya percaya diri untuk datang tanpa
kawan. Sebenernya sih, bukan saya tidak mau ditemani. Tapi karena saya yang
telat. Ditambah volume kendaraan hari ini itu padet banget! Bis yang saya
tumpangi, hanya bisa terpekur ditengah jalan, berhenti total selama sejam L
Setelah sampai di depan hotel, saya
bingung. Dimana sebenarnya acara itu berlangsung. Saya masih menimbang-nimbang.
Lewat pintu depan, ntar dikira mau nginep. Lewat pintu belakang, kok jadi nggak
jauh beda ama CS *cleaning servis* ya? Mau lewat pintu samping, nggak bisa.
Soalnya mereka nggak buat pintu samping :P. Akhirnya, saya dekati seorang
security,
Saya: “Pak, mau nanya tempat acara ini
ya..”
Security: “Acara apaan mba?”
Saya: “bentar pak, saya cari sms-nya dulu”
–sambil nguprek-nguprek henpon saya.
Security: “Makanya mba, sms jangan
banyak-banyak!!”
Saya: -Yaaa, kok jadi Bapaknya sewot- “Iya,,iya
Pak, ini mah nggak banyak. Masih ada yang lebih banyak dari segini Pak”
Saya: “Naaaah, ini nih Pak. Seminar 4
Pilar Kebangsaan.” –sambil saya tunjukan henponnya-
Security: “Mane sih mba..?”
Saya: “ini lho Pak, yang saya tunjuk”
Security: “Mane sih?” –si Bapak udah
nggak sabar, dan akhirnya mengambil henpon saya-
Saya: “Pak…!”
Security: “iya..tunggu mba, saya baca dulu”
–sambil menggese-geser layar henpon yang emang bisa digeser-
Saya: “Udah belum Pak..? saya udah telat
ini!!” -___-‘
Security: “Oo..acara ini, kamu lurus aja
Mba, sampe ketemu plang gede namanya Puri Ratna”
Saya: “Okeh, terima kasih…! Tapi henpon
saya balikin dulu Pak!”
Security: “Oo.. ini-ini…”
Saya: - setengah berlari mengejar waktu, saya mikir ‘Yaaa…
tapi henpon saya jangan ampe ditilep atuh Pak -___-a ‘–
Dan, akhir cerita ini adalah happy ending.
Saya tidak salah menemukan tempat acaranya,
Saya ktemu kawan lainnya dan Saya dapet Ilmu yang bermanfaat hari ini insyaAllah
J
#SavePalestina
Senin Penuh Semangat, 6
Dzulhijjah 1433H
Bulan
Dzulhijjah, selain dikenal dengan bulan Haji-karena didalamnya ada perintah
menunaikan ibadah haji- tetapi juga disebut sebagai Bulan Tadlhiyah atau bulan
Pengorbanan. Ajaran untuk berkorban dalam bentuk kurban kita. Namun, tadlhiyah
atau pengorbanan itu tidak hanya sebatas sembelihan kurban di tanggal 10 atau
11,12 dan 13 dzulhijjah yang biasa disebut hari tasyrik.
Masih
dalam momen Pemaksimalan Amal di 10 hari awal bulan Dzulhijjah ini Para Pecinta
Ilmu. Saya pun diingatkan dengan kondisi saudara-saudara kita di Tanah Suci
Palestina. Dalam seminar kepalestinaan kemarin, Syaikh Abu ‘Uwaimer dari
Palestina menjelaskan bahwa sebuah kesalahan jika kita menyempitkan makna
pengorbanan dengan hanya berkurban. Bukan. Bukan itu yang diharapkan dari
berkurban. Tapi terasahnya rasa kepekaan, simpati kita. Bahkan, tidak hanya
simpati. Harus ada empati.
Beliau
mengatakan, jika semua orang ditanya tentang Palestina, maka semua akan
menjawab, ‘Ya..kami cinta Palestina’. Dan beliau tidak ragu akan pernyataan
mereka. Namun, kecintaan kita itu bersifat momen opname, sesaat saja. Sehingga
sering terlupa.
Untuk
Palestina, tidak sembarang cinta bisa terucap. Untuk Palestina, tidak semua
simpati bisa menolong.
Syaikh
Abu Uwaimer pun menjelaskan, ada beberapa syarat agar kecintaan itu bernilai;
1.
Iman (الايمان)
Skala permasalahan Palestina bukan lagi skala internasional atau
hubungan kenegaraan. Akan tetapi, masalah Palestina berada dalam skala yang
sangat besar. Skala keimanan. Disini keimanan dipertaruhkan. Sudahkah kita
termasuk orang-orang yang meyakini bahwa Palestina adalah Bumi para nabi?
Palestina adalah tempat kiblat pertama umat muslim berada? Palestina memiliki
Masjid Al-Aqsha yang merupakan Masjid utama untuk umat muslim.?
Ataukah kecintaan yang kita dengungkan hanya sekedar pemanis
mulut belaka? Hanya sekedar sebuah simpati
kosong?
2.
Ilmu dan Pemahaman (العلم و الفهم)
Cinta kita untuk Palestina akan terus tumbuh ketika kita
mengetahui dan paham betul permasalahan Palestina yang sesungguhnya.
3.
Sabar dan Semangat (الصبر و الحرص)
Bukan sabar melihat penderitaan saudara-saudara kita di
Palestina, justru kita mesti geram. Tapi sabar untuk selalu memupuk rasa cinta.
Dan semangat menjaga empati kita. Sama halnya dengan kesabaran dan semangat
seorang ibu merawat anaknya. Bisa kita bayangkan jika tidak ada kesabaran dan
semangat itu. Betapa banyak anak yang harus menyudahi hidupnya dalam waktu yang
tak terbilang lama. Bisa kita bayangkan jika tidak ada kesabaran dan semangat
itu. Betapa cepatnya nanti bumi Palestina akan hilang dari sejarah manusia?
4.
Kejujuran (الصدق)
Kejujuran ketika beramal dan kejujuran dalam niat untuk
masalah Palestina. Jika sering kali kita mengabaikan Palestina, cobalah untuk
menelisik lebih jauh lagi seberapa tulus kejujuran cinta kita terhadap
Palestina?
Saat
anda mendapatkan kemurnian dan kejujuran niat anda, Pasti anda adalah mereka
yang benar-benar mencintai Palestina
Jadikan
cinta kita untuk Palestina sebagai pemberat amal menuju Firdaus-Nya. Jadikan
amalan kita di 10 hari ini amalan terindah untuk predikat amal yang Sangat
Dicinta Allah SWT. (Inr/Arslan)
Berharap Roda Bertambah
Pasti.
Pernyataan tentang itu pasti ada. Tiap tahun pasti ada. Kami yang dengar juga pasti harus siap sedia.
Pasti.
Pernyataan itu selalu saja ada. Apalagi di Bulan Ramadahan dan Syawal lebih terasa.
Keluarga saya itu keluarga dengan anggota yang bisa dibilang lumayan. Bersama keempat saudara perempuan dan orang tua saya, pernyataan itu memang sangat pas dinyatakan. Pernyataan yang wajar, karena memang hal itu adalah sebuah kebutuhan kami.
“Seharusnya sudah ada mobil yang mejeng disamping rumah…” J
Memang. Seharusnya memang harus ada.
FYI, Ayah dan Ibu saya itu, orang tua yang sangat peduli dan dermawan. Dermawan dalam bagi-bagi pahala. Saya bilang dermawan, karena beliau berdua itu selalu melibatkan anak-anaknya dalam kegiatan kebaikan. Seakan beliau berdua nggak mau dapet pahala sendirian. Walaupun sesulit apapun. Misalnya, kalau ada pengajian semua anaknya pasti diajak. Dan itu sudah dilakukan sejak saya kecil. Tempat yang jauh, tetap saja ditempuh walau harus 2 kali mengantar. Bayangannya seperti ini. Kloter pertama, saya dan dua adik saya. Kloter kedua, ayah bonceng ibu dan satu adik sisanya.
“Iya, tenang aja. Masih ada yang lebih penting dibanding mobil sekarang ini..” jawab ayah tiap kali pernyataan dan pertanyaan tentang itu lagi-lagi muncul.
Saya sih, juga sangat berharap. Kami sekeluarga bisa pergi sama-sama dalam satu mobil. Siapa juga yang nggak mau? Tapi saya tahu, ayah dan ibu saya pasti punya pertimbangan lain untuk hal ini. Ini rahasia dua insan, Haha :P
Ada satu yang membuat saya nggak terlupa dengan Ramadlan 1433H kemarin ini. I’tikaf(bermalam di Masjid) di sepuluh hari terakhir. Dan anda tahu?? Ayah dan ibu saya nggak pernah pergi I’tikaf sendirian. Pasti kami anak-anaknya diajak juga. Dari dulu sodara-sodara! Dari saya masih kelas TK sampai sekarang sudah Semester tiga. Tiap malam boyongan barang-barang kayak pindahan. Bawa selimut, jaket, makanan sahur dan cemilan sebanyak-banyaknya.
Nah, I’tikaf kali ini beda. Kami pergi ketempat yang lebih jauh dari biasanya. Di Masjid Abu Bakar, Puncak Dieng-Malang. Yang sholat malam disana itu berimamkan seorang syekh dari Makkah. Jadi feel-nya itu lho, dapet banget!^__^. Ini mungkin alasan yang menjadikan ayah dan ibu saya ketagihan I’tikaf disana. Hanya saja terkendala dengan transportnya. Syukurnya, seorang teman akrab ayah mengajak kami sekeluarga untuk kesana dengan tumpangan mobil beliau.
Namun, di hari terakhir beliau nggak bisa lagi menjemput kami. Karena beliau berencana untuk pulang kampung. Hari itu sempet sedih juga. Hari terakhir malah nggak bisa pergi L. Ayah saya juga sangat berharap malam terakhir itu bisa dimaksimalkan.
Akhirnya, ayah saya bilang “Ayo siap-siap! Ayah udah pesen taksi J”
Ayah saya seakan bisa baca rutukan saya dalam hati waktu itu, ‘Coba punya mobil, kan nggak repot nunggu tumpangan’ . Asli! Saya malu berat..
Padahal sebenernya, kalau ayah dan ibu mau, beliau bisa pergi berdua dengan motor. Dan kami I’tikaf ditempat biasa.
Tapi, ternyata Tuhan saya ingin malam itu menjadi malam I’tikaf saya yang paling indah.
*****
Paginya, kami pulang dengan naik angkot. Lalu saya bilang,”Waaaaa,, tadi malem naik Taksi, sekarang ngangkot :P”
Jawab ayah saya, “Jadi kerasa semuanya kan???” J
Mm.. di angkot saya mulai berpikir.
Sebenernya Allah ingin memberikan kesempatan pada kami untuk mempunyai waktu bersama yang lebih dari biasanya dengan belum adanya mobil diantara kami.
Sebenernya Allah ingin memberikan sebuah kenangan indah yang bisa kami ceritakan pada lainnya.
Dan sebenernya Allah ingin memberikan sebuah hikmah yang mungkin tidak akan kami dapatkan jika kami mempunyai mobil itu..
Serta sebenernya, Allah SWT sudah punya timing yang tepat untuk kami diberikan sebuah mobil.
Yang penting kami sekarang mencoba untuk memantaskan diri dan terus Berharap Roda motor kami akan Bertambah jadi empat ato lebih juga nggak apa-apa, agar akhirnya membawa berjuta kebermanfaatan.
Aamiiiiiiiin \^____^/
Malang,
1 Ramadlan 1433 H/ 20 Juli 2012
Selamat datang di Bulan yang
penuh keberkahan., penuh kejutan dan penuh kebahagiaan serta rahmat. Tersedia jutaan hadiah yang dapat diperoleh
di Bulan ini.
Ramadlan ini adalah sebuah
Variety Show yang diselengggarakan tiap tahun di bulan ke
Sembilan menurut kalender Hijriah. Yang
secara konsisten hadir membawa segudang harapan dan sambutan yang meriah.
Dengan konsep yang berbeda dari
variety show biasa, Ramadlan siap memberikan berjuta kejutan untuk seluruh
pesertanya. Kejutan ini tidak hanya
datang di pagi hari saja, atau siang hari saja, atau sore serta malam hari
saja. Karena kejutan-kejutan Ramadlan akan datang mengejutkan anda 24 jam
nonstop, sehari semalam, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Saat
anda bangun, tidur, bekerja, beribadah atau dalam aktivitas sesibuk apapun
selama satu bulan penuh
Ditengah maraknya variety show
yang bermunculan. Yakinlah bahwa Ramadlan adalah variety show yang paling
sempurna. Bayangkan!!! Hadiah-hadiah
menarik didalamnya, bukanlah hadiah
biasa. Ada sejumlah rahmat yang akan dibagikan di 10 hari pertama, sejumlah
ampunan yang akan dibagikan di 10 hari kedua, dan puluhan hingga ratusan juta
tiket pembebasan dari api neraka di 10 hari terakhir.
Eits,, bukan hanya itu saja.
Masih banyak lagi…
Pahala-pahala amalan anda akan
berlipat-lipat. Ibarat bonus-bonus yang anda dapatkan saat menyelesaikan sebuah
permainan. Bonus pahala tersebut akan dikalkulasikan dengan total pahala anda
sebelumnya dan menjadi pemberat timbangan amal anda untuk bisa menikmati
Keindahan Surga Allah SWT.
Tunggu dulu…
Belum cukup sampai disini..
Anda memiliki keinginan yang
belum tercapai??? atau kesulitan yang belum mendapatkan solusi???
Ramadlan adalah pilihan tepat.
Dengan mengikuti nya, anda bebas mengutarakan apapun keinginan, curhatan bahkan
kesedihan hingga kesulitan anda.
Kenapa???
Karena setiap doa yang terucap, tidak terhalang sedikit pun. Doa dan
pengharapan anda akan langsung dikabulkan. Lihat saja! Anda akan merasakan
keajaiban dari kekuatan doa yang anda ucapkan saat berada di Bulan ini.
Bagaimana???
Anda tertarik bukan untuk mengikutinya???
******
Caranya mudah!!!
Anda tidak perlu mendaftar ke stasiun televisi, radio atau media manapun. Tidak
perlu registrasi melalui apapun. Tidak ada pungutan biaya sepeserpun. Dan anda
tidakperlu pergi kemanapun.
Karena hanya dengan:
1.
Beragama Islam
2.
Berpuasa selama bulan Ramadlan ini
3.
Menjaga kualitas amalan-amalan wajib
4.
Meluangkan waktu untuk amalan-amalan sunnah
5.
Rajin infaq serta shadaqah
6.
Banyak berdoa dan dzikir
7.
Menghiasi lisan dengan membaca AlQuran dan
perkataan yang baik
8.
Serta, memilik niat Ikhlas karena Allah SWT dan
azzam yang kuat
Anda akan merasakan sensasi dan
kejutan hadiahnya langsung dan tanpa tanggungan pajak.
Mau tunggu apalagi???
Ayo buruan!!!!
Raih Pahalanya, Raih KeridloanNya……..
Because, Ramadlan is The Best
Variety Show in the World
Senin, 2 Juli 2012 di Masjid
Al-Ikhlas Jatipadang
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Pukul 19.35 (-an) WIB.
Pekerjaan itu
Bernama Kerja Keras
Saya mendapat hikmah lagi.
Semua bermula saat petang itu, saya
mendapat hidayah dari Allah untuk Sholat Isya berjamaah di masjid masyhur
bernama Al-Ikhlas (seperti tersebut diatas dengan lengkap). Padahal biasanya
saya langsung ngeloyor pulang karena adzan Isya udah lewat setengah jam dan
saya pun sholat dirumah setelah menjadi Guru
Ngaji Amatiran. Tapi hari itu saya pulang lebih awal. Dan bertepatan
dengan kumandang adzan Isya.
Setelah sholat saya yang masih harus
melipat mukenah, sedikit mundur agar tidak mengganggu orang lain dengan
keajaiban tangan saya. Tepat disamping saya seorang ibu, kira-kira berusia 40
tahun lebih dengan bawaanya yang lumayan, menawarkan sebungkus permen untuk
masuk angin -udah ketebak kan nama permen tersebut??- kepada saya untuk dibeli.
“Permennya mba,
dua ribu aja” tawar beliau.
Saya yang lagi kere dan dengan segala
anugerah serta keterbatasan kantong yang saya punya, menolak tawaran ibu
tersebut. Dengan jujur saya jawab
“Maaf ibu, saya
habis main dari rumah teman. Dan kebetulan sedang tidak membawa uang”
“Oo.. Nggak
Papa, nggak papa. Berarti bukan rezeki saya hari ini”jawab beliau.
Saya sempat mengira bahwa ibu ini adalah
seorang Musafir biasa yang sedang dalam perjalanan. Tapi ternyata seorang pedagang, yang tidak jelas dagangannya.
Maksudnya, saya tidak bisa menebak termasuk Pedagang yang manakah ibu ini?
Pedagang asongan kah? Pedagang pakaian atau pedagang permen? Entahlah, belum
ketahuan.
“Kamu masih
kuliah ya?”
“Iya Bu……………”
“Oo… ya bener
kalo gitu. Kamu nanti kalo nyebrang jalan depan ini hati-hati lho, banyak
kendaraan lalu lalang”
“Eh,,, Mm,, iya
sih Bu, Jalan depan emang rame” jawab saya bingung. Kenapa tiba-tiba saya disuruh untuk hati-hati di jalan. –Apa muka
saya, adalah muka yang kurang expert dalam menyebrang? L-
“Iya… Terus
kamu itu juga harus sering-sering Senyum
kayak gitu. Karena senyum itu Sedekah. Iya kan?” sambung beliau sambil menunjuk
muka saya.
“O..oo..iya Bu”
saya semakin bingung disini.
“Iya memang….
Gini saya kasih tau. Walaupun kamu nggak beli dagangan saya (Hiks!
Diungkit lagi L). Tapi saya senang, kamu
menolak dengan baik. Kasih senyum. Nggak cuek sama saya.”
“Saya minta
maaf Bu. Bener-bener lagi nggak ada” bela saya.
“Tenang saja!
Nggak papa, nggak papa..nggak papa kok. Kalo orang nggak beli dagangan saya itu
nggak masalah. Yang penting, ketika menolak itu dengan senyum.. ya! Dengan
sopan..ramah.. ya! Jangan mentang-mentang cuma jualan permen terus ditolak
seenaknya!”jawab Ibu itu membenahi sambil mengeluarkan barang-barang yang lain.
Ada segulungan kertas warna-warni. Dan sebagiannya, gulungan kertas dengan
lukisan 3 dimensi.
“Itu dagangan
ibu juga?”
“Iya……”
“Oo……”
Saya kira sudah selesai sampai disini
perbincangan kami. Saya letakkan mukenah pada tempatnya dan segera pulang
karena ada seorang teman yang sedang menunggu dirumah. Tapi…..
“Kamu tau?!
Saya pernah jualan dari habis isya gini sampai subuh di Pasar Minggu sana. Tapi
nggak ada satupun yang beli. Tapi waktu saya sholat disini, dagangan saya laku!
Nggak papa walaupun cuma dua ribu perak.
Nggak papa. Yang penting saya sudah berusaha. Yang penting saya nggak
minta-minta. Iya kan?!
“Iya Bu,
Bener..” saya mengurungkan niat untuk kembali dan duduk dengan seksama
disamping beliau.
“Banyak orang
yang menilai dari luarnya aja. Padahal saya juga sama. Ingin beribadah juga
dsisini. Kok, seenaknya diusir. Ini rumah Allah kan, mba? Rumah semua umatNya.
Iya kan?!”
“Iya Bu….”
Saya makin bingung. Kenapa tiba-tiba tema pembicaraanya berubah.
Ibarat nemu gang kecil. Jujur, saya sempat sedikit buruk sangka terhadap ibu
ini. Sepertinya, dia serupa kasus dengan
ibu tua yang selalu membawa travel bag dan berdiam di pojokan masjid -Beliau
ini entah memang terganggu kejiwaannya atau seorang nenek yang sudah sangat
pikun, yang selalu berkata “Saya ini bukan orang stress ya! Saya ini normal!
Terpelajar! Saya dulu soerang peagawai di Dinas Pertanian. Saya juga kenal kok
sama Pimpinan Masjid ini. Biar nanti
saya bilang sama dia.-
Nah, ibu yang sedang disamping saya ini (menurut saya) tidak jelas
statusnya. Sedikit berbeda. Sepertinya sedikit mengalami stress yang uniknya
perkataan-perkataan beliau semua berisikan nasihat-nasihat.
“Tapi saya
seneng. Hari ini ada yang senyum kayak kamu. Iya… kamu harus selalu senyum ya!
Kamu emang nggak beli dagangan saya (Aduh,,diungkit lagi L), tapi kamu udah ganti dengan
sedekah. Iya kan? Senyum itu kan sedekah. Iya kan? Senyum yang dari hati itu
yang bener-bener berbuah pahala. Daripada kamu beli permen saya, tapi nggak
senyum. Itu lebih nyakitin hati. Iya kan?”
“Oh! Iya..iya
Bu..”
Emang dari tadi saya senyum ya? Bukannya
lagi kebingungan??? -__-‘
“Nih, saya
pernah dapet kertas ini di salah satu masjid. Ini bagus sekali. Tentang kerja
keras. Apapun pekerjaan kamu. Tetep kerja keras. Di bagian manapun kamu tetep
kerja keras. Seperti pekerja di pesawat. Iya kan? Itu juga ada disini
dijelaskan. Nih, saya kasih kamu satu.
“Wah.. terima
kasih bu”
“Iya..
sama-sama. Saya emang sengaja foto kopi yang banyak biar bisa dibagi-bagikan.
Kalau kita punya Ilmu itu harus di bagikan juga ke orang lain. Iya kan?”
“Iya Bu..”
“Nah,, kamu
juga gitu. Habis ini nih, foto kopi itu dan sebarkan ke teman-teman kamu. Kalo
bisa titpkan di Pak RT biar bisa disebar di tetangga-tetangga kamu”
“Insya Allah,,
terima kasih bu, saya jadi dapet ini”
“Iya nggak
papa. Nggak papa. Itu sudah jadi kewajiban saya. Iya kan?”
“Kalo gitu saya
pamit dulu”
“Iya..iya
silakan. Jangan lupa hati-hati nyebrangnya ya?!”
Saya langsung pergi. Bingung dan bingung.
Cuma itu. Saya memilih untuk membaca kertas itu di rumah saja.
*****
Nasihat ini ditulis oleh Ust Didin Hafidhuddin, seorang ustadz yang
masyhur di masyarakat kita. Saya akan menuliskannya disini. Biar hikmahnya
makin berasa. Dan hitung-hitung, melaksanakan amanah dari beliau.
Menghargai
Kerja Keras
Oleh:
Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS
Syahdan ketika seorang pemuda
berjabatan tangan dengan Rasul SAW, tiba-tiba rasul mencium tangan pemuda itu
sambil berkata “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT” (HR Jamaah).
Kedua tangan pemuda itu keras dan
agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal
lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok
pekerja keras inilah yang dicinta dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
Memang, Islam adalah agama yang
mendorong umatnya untuk selalu bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan,
mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya
dengan Allah SWT maupun dengan sesame manusia, bahkan dengan dirinya
sendiri. Karena hanya dengan cara inilah
seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.
“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu,
maka Allah dan RasulNya serta orang-orang Mukmin melihat pekerjaanmu itu, dan
kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS
At-Taubah[9]:105).
“Dialah yang menjadikan bumi itu
mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan
makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan” (QS Al-Mulk [67]: 15).
Rasul SAW sangat memuji orang yang
berusaha dan mencari nafkah untuk memenuih kebutuhan diri dan keluarganya,
seperti digambarkan dalam hadits di atas dan hadits riwayat Imam Bukhari No.
1.470; “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang
dipikul di atas pundaknya itu lebih baik dari pada meminta-minta.”
Dalam hadits lain riwayat Bukhari
No.2.072; “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil
usahanya sendiri dan Nabi Daud As juga makan dari usahanya sendiri.”
Bahkan,
jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya
itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR Imam Thabrani).
Sebaliknya Rasulullah SAW sangat
membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan beliau selalu memohon
perlindungan Allah SWT dari sifat malas. “Allahummma inni a’udzu bika minal ‘ajzi
wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika minal fitnatil mahya wal mamat
wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari
sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari
fitnah kehidupan dan kematiandan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.”
(HR Bukhari)
Karena itu, kita harus bersyukur dan
memberikan apresiasi tinggi kepada generasi muda, seperti pelajar SMK yang
berhasil mebuat mobil dan merakit pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah
bimbingan para gurunya dalam team work yang solid. Kita yakin masih banyak
generasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depannya dan
masa depan bangsa dan masyarakatnya. Wallahu a’alam.
*****
Kesimpulan
saya,
“Berbeda profesi mungkin iya, tapi ada pekerjaan mutlak yang harus sama. Pekerjaan yang
mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Pekerjaan itu bernama Kerja Keras!!”
Iya kan?? ^__^