Tua, Yang Tak Terperhatikan

Diposting oleh Ilma Nur Rohimah , Jumat, 16 November 2012 11/16/2012 05:18:00 PM




            Tinggal di Kota Jakarta itu memberikan banyak kesan. Kesan baik itu ada. Kesan buruk itu pasti. Dengan segala keunggulan yang dipunya, dengan segala kerumitan masalah yang dimiliki. Ini letak keunikan kota Jakarta.
            Saya tidak ingin bercerita tentang Jakarta.
            Hanya sebuah kisah sederhana.
*****
            Menjadi perantauan, tinggal di tanah orang, berbeda budaya dan kebiasaan, bertemu perangai baru dan bermacam-macam. Keharusan untuk saya bisa beradaptasi dengan mereka. Melebur, menjadi bagian dari mereka. Tanpa meninggalkan apa yang menjadi prinsip.
            Namun, bagaimana pun juga. Ada saja bagian yang tidak bisa kita terima.
            Seperti kebiasaan tetangga yang suka nongkrong, ngobrol suatu yang tak jelas. Jika sudah begitu, dunia mereka, hanya milik mereka tanpa memperhatikan sekeliling. Tidak itu anak sendiri atau orang lain. Termasuk seorang nenek yang tinggal di dekat rumah saya. Nenek tua, yang kesepian sepertinya. Berusia 80-an tahun, sendiri tanpa teman berbagi.
            Menghabiskan usia tua di Jakarta itu, pasti bukan yang diharapkan beliau. Tuntutan Jakarta, menjadikan anaknya sibuk bekerja, meninggalkan sang ibu di rumah. Seakan meminta pengertian agar tidak mengganggu pekerjaannya.
            Usia tua,
            Sendiri, tanpa teman berbagi.
            Tiap hari berkeliling komplek mencari teman, namun tak ada yang mau menemani. Duduk termenung berjam-jam di bawah pohon atau di pos penjagaan. Menyapa siapa pun yang lewat sambil tersenyum, walau ternyata dibalas ketus karena keuzurannya.
            Pasti sempat bertanya, lalu bagaimana dengan saya?
            Hingga saat ini, hanya sapaan yang saya berikan. Juga tersenyum pada beliau. Tidak lebih. Dan belum bisa berbuat lebih. *Maaf m(_ _)m
            Dan kemarin, seperti sore-sore sebelumnya. Saya keluar rumah dan bertemu beliau. Beliau yang tahu bahwa saya adalah mahasiswa, pasti mengira bahwa setiap saya keluar saya akan pergi kuliah. Jadi, bayangkan jika saya keluar rumah sehari itu 4 kali, beliau akan 4 kali juga menanyakan hal yang sama. “Mau kuliah?”. Dan saya kadang tertawa jika meningat itu, ‘Begitu cintanya saya dengan kuliah, kalau bener dalam sehari 4 kali ngampus’ :D.
            Tapi sore itu beda,
Si Mbah: “Kamu mau kuliah?”
Saya: “Enggak mbah, lagi libur.. Pamit yaa”
Si Mbah: “Eh,, kamu bawa payung nggak?”
Saya: “Mm,, emang mau hujan Mbah? Kan udah tadi?” *ternyata beliau tahu, saya memang tidak membawa paying.
Si Mbah: “Bawa aja payungnya, kita nggak tau lho. Hujan itu tiba-tiba dating aja.”
Saya: “Nggak papa Mbah, InsyaAllah sore ini nggak hujan”
Si Mbah: “Eh, jangan gitu kamu. Saya sering liat kamu pulang hujan-hujanan nggak bawa payung. Nanti kalo sakit gimana? Jauh dari orang tua, kalo sakit nanti orang rumah yang khawatir. Masih juga nanti harus kuliah. Udah kamu pulang ambil payung!”
Saya: “ah,,eh,, iya Mbah”
            Saya segera kembali ke rumah, untuk mengambil payung. Tapi ada anak-anak iseng yang meledek.
Mereka: “Kenapa mbak? Diomelin ya ama Mbah??” sambil tertawa.
Saya: “Itu bukan diomelin yaa, Mbah cuma ngingetin!!!”
‘Dasar anak iseng!!’ rutuk saya dalam hati.
            Di jalan kembali ke rumah, saya ingat-ingat kembali kejadian tadi. Ternyata beliau begitu peduli dan memperhatikan saya. Walaupun kami hanya bertemu di jalan. Berbeda dengan beliau yang tidak diperhatikan sekelilingnya. Dilalui dan tidak dianggap keberadaanya. Bahkan sering dijadikan bahan ejekan anak-anak komplek.
            Mungkin ada baiknya jika beliau kembali saja ke kampung halamannya. Menikmati hari tua dengan keramahan dan keasrian sebuah desa.
            Tapi, pasti semuanya berhikmah.
            Selesai mengambil payung, kembali saya bertemu dengan Mbah itu.
Si Mbah: “Udah dibawa payungnya?”
Saya: “sudah mbah! Di dalem tas!” teriak saya sambil menunjuk ransel.
******
*Hidup tak akan selamnya indah. Ada masanya, hidup kita berada diakhirnya. Menjadi tua, menjadi lemah. Atau sebelum menjadi tua. Dan kita pun harus siap jika nanti saat Tua, saat dimana tak lagi banyak orang  akan memperhatikan seperti sekarang ini*
             
            

0 Response to "Tua, Yang Tak Terperhatikan"

Posting Komentar