Kenapa?
Anda nggak tahu
ya, maksud dari TYPO itu apa?
Dan anda berniat
untuk menanyakannya pada Suhu Google, yang sudah terjamin track record di dunia
jawab-menjawab pertanyaan masyarakat sedunia?
Kenapa anda tergerak
mencari arti kata TYPO?
Pasti karena
banyak orang yang menggunakan istilah itu sekarang ya?
Dan anda
termasuk orang-orang yang khawatir dibilang kuper selalu update info-info terbaru? :D
Tenang saja!
Nasib anda sama
dengan saya! *eh, tolong dicoret*
Maksud saya,
Nasib anda beruntung kali ini, karena disinilah jawaban itu akan anda dapatkan!
*******
Jadi begini sodara,
TYPO adalah kependekan dari
TYPHOGRAPHICAL ERROR
Yaitu kesalahan dalam penulisan kata yang
pasti karena tidak sengaja. Misal: ‘Siul-siul’ menjadi ‘Siul-siuk’ atau ‘Terima
kasih’ menjadi ‘Terima kasig’ atau yang lebih ekstrem lagi seperti ini, yang dimaksud
itu ‘Mobil’ tapi ternyata tertulis ‘Kereta api’. Tentu ini penulisan kata yang
sangat UERRROOORR.
*******
Okeh, dan sekarang
Anda pasti bahagia,
Karena telah mengetahui arti dari TYPO
itu
Saya ucapkan selamaaaaattt!!! ^____^v
Tinggal
di Kota Jakarta itu memberikan banyak kesan. Kesan baik itu ada. Kesan buruk
itu pasti. Dengan segala keunggulan yang dipunya, dengan segala kerumitan
masalah yang dimiliki. Ini letak keunikan kota Jakarta.
Saya
tidak ingin bercerita tentang Jakarta.
Hanya
sebuah kisah sederhana.
*****
Menjadi
perantauan, tinggal di tanah orang, berbeda budaya dan kebiasaan, bertemu
perangai baru dan bermacam-macam. Keharusan untuk saya bisa beradaptasi dengan
mereka. Melebur, menjadi bagian dari mereka. Tanpa meninggalkan apa yang
menjadi prinsip.
Namun,
bagaimana pun juga. Ada saja bagian yang tidak bisa kita terima.
Seperti
kebiasaan tetangga yang suka nongkrong, ngobrol suatu yang tak jelas. Jika sudah
begitu, dunia mereka, hanya milik mereka tanpa memperhatikan sekeliling. Tidak
itu anak sendiri atau orang lain. Termasuk seorang nenek yang tinggal di dekat
rumah saya. Nenek tua, yang kesepian sepertinya. Berusia 80-an tahun, sendiri
tanpa teman berbagi.
Menghabiskan
usia tua di Jakarta itu, pasti bukan yang diharapkan beliau. Tuntutan Jakarta,
menjadikan anaknya sibuk bekerja, meninggalkan sang ibu di rumah. Seakan meminta
pengertian agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Usia
tua,
Sendiri,
tanpa teman berbagi.
Tiap
hari berkeliling komplek mencari teman, namun tak ada yang mau menemani. Duduk termenung
berjam-jam di bawah pohon atau di pos penjagaan. Menyapa siapa pun yang lewat
sambil tersenyum, walau ternyata dibalas ketus karena keuzurannya.
Pasti
sempat bertanya, lalu bagaimana dengan saya?
Hingga
saat ini, hanya sapaan yang saya berikan. Juga tersenyum pada beliau. Tidak lebih.
Dan belum bisa berbuat lebih. *Maaf m(_ _)m
Dan
kemarin, seperti sore-sore sebelumnya. Saya keluar rumah dan bertemu beliau. Beliau
yang tahu bahwa saya adalah mahasiswa, pasti mengira bahwa setiap saya keluar saya
akan pergi kuliah. Jadi, bayangkan jika saya keluar rumah sehari itu 4 kali,
beliau akan 4 kali juga menanyakan hal yang sama. “Mau kuliah?”. Dan saya
kadang tertawa jika meningat itu, ‘Begitu cintanya saya dengan kuliah, kalau
bener dalam sehari 4 kali ngampus’ :D.
Tapi
sore itu beda,
Si Mbah: “Kamu mau kuliah?”
Saya: “Enggak mbah, lagi libur.. Pamit
yaa”
Si Mbah: “Eh,, kamu bawa payung nggak?”
Saya: “Mm,, emang mau hujan Mbah? Kan udah
tadi?” *ternyata beliau tahu, saya memang tidak membawa paying.
Si Mbah: “Bawa aja payungnya, kita nggak
tau lho. Hujan itu tiba-tiba dating aja.”
Saya: “Nggak papa Mbah, InsyaAllah sore
ini nggak hujan”
Si Mbah: “Eh, jangan gitu kamu. Saya
sering liat kamu pulang hujan-hujanan nggak bawa payung. Nanti kalo sakit
gimana? Jauh dari orang tua, kalo sakit nanti orang rumah yang khawatir. Masih
juga nanti harus kuliah. Udah kamu pulang ambil payung!”
Saya: “ah,,eh,, iya Mbah”
Saya
segera kembali ke rumah, untuk mengambil payung. Tapi ada anak-anak iseng yang
meledek.
Mereka: “Kenapa mbak? Diomelin ya ama
Mbah??” sambil tertawa.
Saya: “Itu bukan diomelin yaa, Mbah cuma
ngingetin!!!”
‘Dasar anak iseng!!’ rutuk saya dalam
hati.
Di
jalan kembali ke rumah, saya ingat-ingat kembali kejadian tadi. Ternyata beliau
begitu peduli dan memperhatikan saya. Walaupun kami hanya bertemu di jalan. Berbeda
dengan beliau yang tidak diperhatikan sekelilingnya. Dilalui dan tidak dianggap
keberadaanya. Bahkan sering dijadikan bahan ejekan anak-anak komplek.
Mungkin
ada baiknya jika beliau kembali saja ke kampung halamannya. Menikmati hari tua
dengan keramahan dan keasrian sebuah desa.
Tapi,
pasti semuanya berhikmah.
Selesai
mengambil payung, kembali saya bertemu dengan Mbah itu.
Si Mbah: “Udah dibawa payungnya?”
Saya: “sudah mbah! Di dalem tas!” teriak
saya sambil menunjuk ransel.
******
*Hidup tak akan selamnya indah. Ada masanya,
hidup kita berada diakhirnya. Menjadi tua, menjadi lemah. Atau sebelum menjadi
tua. Dan kita pun harus siap jika nanti saat Tua, saat dimana tak lagi banyak orang
akan memperhatikan seperti sekarang ini*
"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran."
{Qs. AlBaqarah: 186}
:: Semua berasal dariNya, ::
:: Coba kita kembalikan padaNya, Kita cari tahu apa mauNya ::
:: Dengan terus mendekat padaNya, ::
:: Terus dekati DIA!!! ::
Ilma Nur Rohimah,
yang juga terus mendekati Dia,,,